RESUME LINGKUNGAN PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
TUGAS MATA KULIAH PENGANTAR PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU
PROFESOR, Dr. Hj ROHANA, S.Pd,M.Pd
Nama : Risma
NIM :210407510004
Kelas : BC21.1
PROGRAM STUDI PGSD
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
1. LINGKUNGAN PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Menurut sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud dengan lingkungan lingkungan meliputi kondisi alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life procces. Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan peserta didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar tehadap peserta didik, sebaba bagaimanapun peserta didik tinggal dalam satu lingkungan yang didasari atau tidak pasti akan memepengaruhi peserta didik. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Karena perkembangan jiwa peserta didik itu sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Lingkungandapat memberi pengaruh posistif dan pengaruh negative terhadap pertumbuhan dan perkembangan jiwa peserta didik, sikapnya, akhlaknya, dan perasaan agamanya. Positif apabila memberikan dorongan terhadap keberhasilan proses pendidikan dikatakan negatif apabila lingkungan menghambat keberhasilan. Pengaruh tersebut terutama datang dari teman sebaya dan masyarakat lingkungannya.
Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan secara umum diartikan sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memepengaruhi kelangsunagn kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya. Lingkungan dibedakan menjadi lingkungan alam hayati, lingkungan alam non hayati, lingkungan buatan dan lingkungan sosial.
Lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai lingkungan tempat berlangsungannya proses pendidika,yang meripakan bagian dari lingkungan sosial.
Jenis Lingkungan Pendidikan
Menurut Ki Hajar Deawantara lingkunga pendidikan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolahan, lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan atau lingkungan pendidikan.
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan searah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti (ayah, ibu, dan peserta didik). Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua dan bersifat informal yang pertama dan utama dialami oleh peserta didik.
Pendidikan keluarga berfungsi sebgai pengalaman pertama masa peserta didik, menjamin kehidupan emosional peserta didik, menanamkan dasar pendidikan moral, memberikan dasar pendidikan sosail, dan mletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi peserta didik.
Lingkungan sekolah bertanggung jawab atas pendidikan peserta didik selama mereka diserahkan kepadanya.karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikana, diantranya sebagai berikut:
Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaaan-kebiasaan yang baik serta menenamkan budi pekerti yang baik.
Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
Sekolah melatih peserta didik memperoleh kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
Disekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan salah atau salah dan sebagainya.
Dasar tanggung jawab sekolah meliputi tangung jawab formal kelembagaan, tanggung jawa keilmuan, dan tangung jawab tanggung jawab fungsional.
Dalam kegiatan pendidikan, kita melihat adanya unsur pergaulan dan unsur lingkungan yang keduanya tidak terpisahkan tetapi dapat dibedakan. Dalam pergaulan tidak selalu berlangsung pendidikan walaupun didalamnya terdapat fakto-faktor yang mendidik. Pergaulan semacam itu dapat terjadi dalam 1). Hidup bersama orang tua, nenek, atau adik dan saudara-saudara lainnnya.dalam satu keluarga 2). Berkumpul dengan teman-teman sebaya 3). Bertempat tinggal dalam satu lingkungan kebersamaan di kota, di desa, atau dimana saja. Dintara ketiga pergaulan terseut, sudah jelas keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling awal yang kemudian dilengkapi dengan linhkungan pendidikan di sekolah dan lingkungan masyarakat lebih luas. Demikian pula kebudayaan seperti bahasa, adat istiadat, kebiasaam, hasil seni, peraturan,merupakan lingkungan yang memberikan pengaruh yang cukup berarti bagi perkembangan individu.
Islam memandang, bahwa keluarga merupakan lingkungan yang paling berpengaruh pada pembentukan kepribadian peserta didik. Hal ini disebabkan oleh:
Tanggungjawab orang tua pada peserta didik bukan hanya bersifat duniawi, melainkan ukhrawi dan teologis. Tugas dan tanggung jawab orang tua dalam membina kepribadian peserta didik merupakan amanah dari tuhan.
Orang tua disamping memberikan memberikan pengaruh yang bersifat empiris pada setiap hari, juga memberikan pengaruh yang bersifat hereditas dan genesitas, yakni bakat dan pembawaan peserta didik
Peserta didik lebih banyak tinggal atau berada di rumah dibangdingkan di luar rumah
Orang tua atau keluarga sebagai lebih dahulu memberikan pengaruh, dan pengaruh yang labih dahulu ini pengaruhnya lbih kuat dibandingkan dengan pengaruh yang datang belakangan dalam keluarga.
Dalam lingkungan keluarga orang tua dapat melaksanakan pendidikan islam melalui kebiasaan seperti membiasakan mengucapkan basmalah sebelum memuai sesuatu, hamdalah sebagai ucapan rasa syukur atas segala hasil dan kenikmatan yang diterima, masyaAllah aewaktu keheranan terhadap sesuatu, Astagfiirullah sewaktu terjadi kekeliruan.
3. Fungsi Lingkungan Pendidikan
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi sengan berabagai lingkungan sekitarnya, utamanya berabagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Oleh karena itu diperlukan berbagai usaha sadar untuk mengatur dan menegndalikan lingkungan itu sedemikian rupaagar dapat diperoleh peluang pencapaian yang optimal, dan dalam waktu yang serta dengan daya/dana yang seminimal mungkin.
Fungsi lingkungan pendidikan dalam individu dan kelompoknya antara lain:
Fungsi untuk mnengajar hubungan dan menyesuaikan diri dengan orang lain
Fungsi untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat yang lebih luas
Fungsi untuk menguatkan sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang sewasa
Fungsi untuk memberikan kepada anggota-anggotanya cara-cara untuk membebaskan diri dari pengaruh kekuatan otoritas
Fungsi untuk memberikan pengalaman untk menagdakan hubungan yang didasarkan pada prindip-prinsip persamaan hak
Fungsi unut memberikan pengetahuan yang tidak bisa di berikan oleh keluarga secara memuaskan (pengetahuan mengenai cita rasa berpakaian, music, jenis tingkah laku tertentu, dan lian-lain).
Fungsi-fungsi untuk memperluas cakrawala pengalaman anak sehingga ia menjadi orang yang lebih kompleks.
II. TRIPUSAT PENDIDIKAN
Dilihat dari segi didik tampak bahwa peserta didik secara tetap hidup di daalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan.
Keluarga
Keluarga adalah lembaga pendidikan tertua bersifat informal yang pertama dan utama dialami oleh peserta didik seta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertaggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik peserta didik agar tumbuh dan berkembang denga baik. Pendidikan keluarga berfungsi: sebagai pengalaman pertama masa peserta didik, menjamin kehidupan emosional peserta diidk, meannamkan dasar pendidikan moral, memberikan dasar pendidikan sosial dan meletakkan dasar-dasar pendiidkan agama bagi peserta didik .
Sekolah
Tidak semua tugas mendidika dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berabgai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirinkan peserta didik ke sekolah. di sekolah di bawah asuhan guru-guru, peserta didik belajar berbagai macam pengetahuan dan keterampilan, yang akan dijadikan bekal untuk kehidupannya nanti dimasyarakat. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan peserta didik selama mereka diserahka kepadanya. Karena itu sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan diantaranya sebagai berikut:
Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaaan-kebiasaan yang baik serta menenamkan budi pekerti yang baik.
Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
Sekolah melatih peserta didik memperoleh kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
Disekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan salah atau salah dan sebagainya.
Masyarakat
Pendidikan yang dialami di lingkungan masyarakat telah mulai ketuka peserta didik untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar pendidikan sekolah.
Pengaruh-pengaruh dari masyarakat ada yang berifat positif dan negatif. Pengarih positif dari masyarakat banyak dijumpai pdalam perkumpulan-perkumpulan pemuda, organisasi-organisasi pelajar. Pengaruh yang bersifat negatif tidak terhitung banyaknya di dalam masyarakat, pengaruh negatf ini sangat mudah diterima olehpeserta didik, dan sangat kuat meresap di hati peserta didik.peserta didik yang tadinya baik di rumah, setelah menadapat pengaruh dari temannya, akhirnya bisa menjadi peserta didik berandalan. Oleh karena itu menjadi tugas dari orang tua harus tahu dan mengawasi selalu dengan siapa peserta didiknya bercampur gaul.
Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga sisi,
yaitu :
1) Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan.
2) Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat.
3) Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang (by design), maupun yang dimanfaatkan (utility).
terdapat lembaga kemasyarakatan kelompok sebaya dan kelompok sosial seperti remaja masjid, pramuka, dsb. Kelompok teman sebaya
mempunyai fungsi terhadap anggotanya antara lain :
1) Mengajar berhubungan dan menyesuaikan diri dengan orang lain.
2) Memperkenalkan kehidupan masyarakat yang lebih luas.
3) Menguatkan sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang dewasa.
4) Memberikan kepada anggota-anggotanya cara-cara untuk membebaskan diri dari pengaruh kekuatan otoritas.
5) Memberikan pengalaman untuk mengadakan hubungan yang didasarkan pada prinsip persamaan hak.
6) Memberikan pengetahuan yang tidak bisa dibrikan oleh keluarga secara memuaskan (pengetahuan mengenai cita rasa berpakaian, musik, jenis tingkah laku tertentu, dan lain-lain).
Ada 5 pranata sosial (social institutions) yang terdapat di dalam lingkungan sosial yaitu:
a. pranata pendidikan, bertugas dalam upaya sosialisasi
b. pranata ekonomi, bertugas mengatur upaya pemenuhan kemakmuran
c. pranata politik, bertugas menciptakan integritas dan stabilitas masyarakat
d. Pranata teknologi, bertugas menciptakan teknik untuk mempermudah manusia
e. Pranata moral dan etika, bertugas mengurusi nilai dan penyikapan
dalam pergaulan masyarakat.
Lingkungan seperti yang dimaksud diatas, pada dasarnya dapat kita bedakan dalam dua golongan, yaitu:
a. Lingkungan Alam
Lingkungan ala mini dapat bersifat klimatologis, geografis, dan juga
keadaan tanah. Yang dimaksud dengan lingkungan alam klimatologis adalah yang berhubungan dengan keadaan iklim. Karena pengaruh iklim maka menyebabkan orang mempunyai kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat tertentu.
b. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial ini masih dibedakan lagi dalam dua macam, yaitu:
Lingkungan Sosial Keluarga dan Lingkungan Sosial Masyarakat. Hal-hal
dalam lingkungan keluarga yang turut berpengaruh pada pendidikan peserta didik antara lain ialah:
– Perlakuan orang tua terhadap peserta didik.
– Kedudukan peserta didik dalam keluarga.
– Status peserta didik dalam keluarga.
– Besar kecilnya keluarga.
– Ekonomi keluarga.
– Pendidikan orang tua.
Hal-hal dalam lingkungan masyarakat yang turut berpengaruh terhadap
perkembangan dan pendidikan peserta didik, di samping terdapat hal-hal yang memberikan pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan peserta didik, juga banyak hal-hal yang memberikan pengaruh negatif.
III. PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA TRIPUSAT PENDIDIKAN
TERHADAP PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
a. Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.
b. Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan.
c. Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Di lingkungan sekolah diupayakan berbagi hal yang lebih mendekatkan
sekolah dengan orang tua peserta didik (organisasi orang tua peserta didik, kunjungan rumah oleh personil sekolah, dan sebagainya). Selanjutnya sekolah juga mengupayakan agar programnya berkaitan erat dengan masyarakat di sekitarnya (peserta didik ke masyarakat, narasumber dari masyarakat ke sekolah, dan sebagainya). Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai kegiatan/program yang menunjang/melengkapi program keluarga
dan sekolah.
Muatan nasional kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar
Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, dan berlaku sama di seluruh Indonesia (UU RI Tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003 Pasal 26 ayat 1), beberapa tujuan yang lebih rinci dari muatan lokal tersebut yang dapat dikategorikan dalam dua kelompok, sebagai berikut : Tujuan-tujuan yang segera dapat dicapai, yakni:
a. Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh peserta didik.
b.Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
c. Peserta didik dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
d. Peserta didik lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial, dan
lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya.
Tujuan-tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya yakni:
a. Peserta didik dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.
b. Peserta didik diharapkan dapat menolong orangtuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
c. Peserta didik menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.
IV. FUNGSI LINGKUNGAN PENDIDIKAN TERHADAP PROSES
PENDIDIKAN MANUSIA
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
a. Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya
b. Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan
c. Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta
didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain.Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia. Lingkungan sekolah sebagai bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat praktekdari bekal yang diperoleh di keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri.
B. IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
Implementasi PPK dapat dilakukan dengan tiga pendekatan utama, yaitu berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. Ketiga pendekatan ini saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan ini dapat membantu satuan pendidikan dalam merancang dan mengimplementasikan program dan kegiatan PPK.
PKK Berbasis Kelas
Pengintegrasian PPK dalam kurikulum Pengintegrasian PPK dalam kurikulum mengandung arti bahwa pendidik mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK ke dalam proses pembelajaran dalam setiap mata pelajaran. Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai utama karakter dimaksudkan untuk menumbuhkan dan menguatkan pengetahuan, menanamkan kesadaran, dan mempraktikkan nilai-nilai utama PPK. Pendidik dapat memanfaatkan secara optimal materi yang sudah tersedia di dalam kurikulum secara kontekstual dengan penguatan nilai-nilai utama PPK.
Tujuan pengaturan kelas adalah agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan membantu setiap
individu berkembang maksimal dalam belajar. Pengelolaan kelas yang baik dapat membentuk penguatan karakter. Berikut ini contoh pengelolaan kelas yang berusaha memberikan penguatan karakter.
a). Peserta didik menjadi pendengar yang baik atau
menyimak saat guru memberikan penjelasan di dalam kelas
(dapat menguatkan nilai saling menghargai dan toleransi).
b). Peserta didik mengangkat tangan/mengacungkan jari
kepada guru sebelum mengajukan pertanyaan/tanggapan, setelah diizinkan oleh guru ia baru boleh berbicara (dapat
menguatkan nilai saling menghargai dan percaya diri).
c). Pemberian sanksi yang mendidik kepada peserta didik
sebagai konsekuensi dan bentuk tanggung jawab bila terjadi
keterlambatan Penguatan Pendidikan Karakter Tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama dalam mengerjakan atau mengumpulkan tugas (dapat menguatkan nilai disiplin, bertanggung jawab, dan komitmen diri).
d). Guru mendorong peserta didik melakukan tutor teman
sebaya, siswa yang lebih pintar diajak untuk membantu
temannya yang kurang dalam belajar dan dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru (dapat menguatkan nilai gotong royong, kepedulian sosial, percaya diri, dan bertanggung jawab).
Beberapa metode pembelajaran yang dapat dipilih guru secara kontekstual, antara lain:
a). metode pembelajaran saintifik (scientific Llearning), sebagai metode pembelajaran yang didasarkan pada proses keilmuan dengan langkah kegiatan mulai dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik simpulan.
b). metode inquiry/discovery learning, yaitu penelitian/penyingkapan. Dalam Webster’s Collegiate Dictionary inquiry didefinisikan sebagai “bertanya tentang” atau “mencari informasi dengan cara bertanya”, sedangkan dalam kamus American Heritage,discovery disebut Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai “tindakan menemukan”, atau “sesuatu yang ditemukan lewat suatu tindakan”.
c) metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based
learning),yaitu metode pembelajaran yang memfokuskan pada identifikasi serta pemecahan masalah nyata, praktis, kontekstual,berbentuk masalah yang strukturnya tidak jelas atau belum jelas solusinya(ill-structured) atau open ended yang ada dalam kehidupan siswa sebagai titik sentral kajian untuk dipecahkan melalui prosedur ilmiah dalam pembelajaran, yang kegiatannya biasanya dilaksanakan secara berkelompok.
d). metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), yaitu pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai media dalam proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas-aktivitas siswa untuk menghasilkan produk dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.
e) metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yaitu suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil (umumnya terdiri dari 4-5 orang siswa) dengan keanggotaan yang heterogen (tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras berbeda). Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran.
f). metode pembelajaran berbasis teks (text-based instruction/genrebased instruction), yaitu pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan diri pada pemodelan teks dan analisis terhadap fiturfiturnya secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Perancangan unit-unit pembelajarannya mengarahkan siswa agar mampu memahami dan memproduksi teks baik lisan maupun tulis dalam berbagai konteks. Untuk itu, siswa perlu memahami fungsi sosial, struktur, dan fitur kebahasaan teks.
Dalam konteks kegiatan PPK berbasis kelas, kegiatan-kegiatan literasi dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran dan mata pelajaran yang ada dalam struktur kurikulum. Setiap guru dapat mengajak peserta didik membaca, menulis, menyimak, dan mengomunikasikan secara teliti, cermat, dan tepat tentang suatu tema atau topik yang ada di berbagai sumber, baik, surat kabar, media sosial, maupun media-media lain. Dalam hubungan
ini diperlukan ketersediaan sumber-sumber informasi di sekolah, antara lain buku, surat kabar, dan internet. Oleh sebab itu, keberadaan dan peranan pojok baca, perpustakaan sekolah, dan jaringan internet menjadi penting untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran.
PPK Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling1 Penguatan Pendidikan Karakter bisa dilakukan secara terintegrasi melalui pendampingan siswa dalam melalui bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling di sekolah dilaksanakan secara kolaboratif
dengan para guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, maupun orang tua dan pemangku kepentingan lainnya. Keutuhan layanan bimbingan dan konseling diwujudkan dalam landasan filosofis bimbingan dan konseling yang memandirikan, berorientasi perkembangan, dengan komponen-komponen program yang mencakup (1) layanan dasar, (2) layanan responsif, (3) perencanaan individual dan peminatan, dan (4) dukungan sistem (sesuai Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah). Lima nilai utama PPK yaitu religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, dan integritas sangat sejalan dengan filosofi bimbingan dan konseling yang memandirikan.
C. KONSEP DASAR PENDIDIKAN KARAKTER
pengertian pendidikan Karakter
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Kata “karakter” definisi dari para ahli. Menurut Poerwadarminta, kata karakter berarti tabiat, watak juga sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. 6 Lebih jauh seorang tokoh psikologi Amerika yang bernama Alport, mendefinisikan karakter sebagai penentu bahwa seseorang sebagai pribadi (character is personalit evaluated). Sedangkan menurut Ahmad Tafsir menganggap bahwa karakter yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia, sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.
Pembentukan karakter juga tidak lepas dari peran guru, karena segala sesuatu yang dilakukan oleh guru mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Karakter terbentuk dari tiga macam bagian yang saling berkaitan yakni pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral.
D. TUJUAN PENDIDIKAN KARAKTER
Secara operasional tujuan pendidikan karakter dalam setting sekolah sebagai berikut:
1). Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.Tujuannya adalah memfasilitasi penguatan danpengembangan nilanilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik pada saat masih sekolah maupun setelah lulus.
2). Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah. Tujuan ini memiliki makna bahwa tujuan pendidikan karakter memiliki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku negatif anak menjadi positif.
3). Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab karakter bersama.
Tujuan ini bermakna bahwa karakter di sekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan di keluarga. Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Tujuan pembentukan karakter menghendaki adanya perubahantingkah laku, sikap dan kepribadian pada subjek didik. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tujuan diadakannya pendidikan karakter, baik di sekolah, madrasah maupun rumah adalah dalam rangka menciptakan manusia Indonesia yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia serta memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan kehidupan ini.
E. NILAI-NILAI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Secara umum, nilai-nilai karakter atau budi pekerti ini menggambarkan sikap dan perilaku dalam hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat dan alam sekitar. Mengutip dari pendapatnya Lickona (1991), “pendidikan karakter secara psikologis harus mencakup dimensi penalaran berlandasan moral (moral reasoning), perasaan berlandasan moral (moral behaviour). Dalam rangka memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter, ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:20
1). Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2). Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan
3). Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4). Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5). Kerja Keras Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6). Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7). Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8). Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9). Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,dilihat, dan didengar.
10). Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasanyang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11). Cinta Tanah Air Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12). Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13). Bersahabat/Komunikatif Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14). Cinta Damai Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15). Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16). Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17). Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18). Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan. tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
F. URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER
Mencetak anak yang berprestasi secara nalar memang tidak mudah, tapi mencetak anak bermoral jauh lebih sulit dilakukan, apalagi dengan perkembangan teknologi canggih yang semakin cepat dan pesat, yang tentunya berdampak terhadap perkembangan anak.
Pendididkan karakter sangatlah penting karena karakter akan menunjukkan siapa kita sebenarnya, karakter akan menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan, karakter menentukan sikap, perkataan dan perbuatan seseorang. Berdasar dari beberapa sumber mengenai pentingnya pendidikan karakter di atas, sejatinya memberikan motivasi serta pencerahan bagi pemerintah, para pendidik, insan akademik serta stakeholder pendidikan pada umumnya untuk segera sadar dan bangkit berupaya mencari solusi agarnpendidikan karakter ini dapat diimplementasikan dengan segera di sekolah madrasah dan juga di rumah. Seluruh warga Indonesia harus segera menyelamatkan diri dengan mencetak sumber daya manusia yang berkarakter unggul sesuai dengan nilai-nilai agama, budaya dan falsafah bangsa.
G. PARADIGMA PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter pada dasarnya proses menghadirkan nilai-nilai dari berbagai dunia nilai (simbolik, empirik, etik, estetik, etik, sinnoetik, dan sinoptik) pada diri peserta didik sehingga denga nilai-nilai tersebut akan mengarahkan, mengendalikan, dan mengembangkan kepribadian secara utuh yang terwujud
dengan ciri pribadi dengan karakter baik.
Dalam prosesnya, pendidikan karakter hendaknya mampu:
(1) mengembangkan unsur-unsur karakter Ngerti, Ngroso, Nglakoni dengan praktik pendidikan yang mementingkan tumbuhnya kesadaran diri (tidak mekanik);
(2) menggunakan pendekatan komprehensif dan holistik, dengan
prinsip-prinsip ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Pembelajaran nilai dalam rangka pendidikan karakter dapat terintegrasi melalui berbagai macam (dunia nilai/mata pelajaran) maupun melalui berbagai program dan budaya sekolah yang kondusif mampu menghadirkan (menginternalisasikan) nilai-nilai pada diri peserta didik.
H. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI PKK
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dan
dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Nilai-nilai Moral Universal Gerakan PPK berfokus pada penguatan nilai-nilai moral universal yang prinsip-prinsipnya dapat didukung oleh segenap individu dari berbagai macam latar belakang agama, keyakinan, kepercayaan, sosial, dan budaya.
2. Holistik Gerakan PPK dilaksanakansecara holistik, dalam arti pengembangan fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati) dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak, baik melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.
3. Gerakan PPK sebagai poros pelaksanaan
pendidikan nasional terutama pendidikan dasar dan menengah dikembangkan dan dilaksanakan dengan memadukan, menghubungkan, dan mengutuhkan berbagai elemen pendidikan, bukan merupakan program tempelan dan tambahan dalam proses pelaksanaan pendidikan.
4. Partisipatif Gerakan PPK dilakukan dengan mengikutsertakan dan melibatkan publik seluas-luasnya sebagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai pelaksana Gerakan PPK. Kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan pihak-pihak lain yang terkait dapat menyepakati prioritas nilai-nilai utama karakter dan kekhasan sekolah yang diperjuangkan dalam Gerakan PPK, menyepakati bentuk dan strategi pelaksanaan Gerakan PPK, bahkan pembiayaan Gerakan PPK.
5. Kearifan Lokal Gerakan PPK bertumpu dan responsif pada kearifan lokal nusantara yang demikian beragam dan majemuk agar kontekstual dan membumi. Gerakan PPK harus bisa mengembangkan dan memperkuat kearifan lokal nusantara agar dapat berkembang dan berdaulat sehingga dapat memberi indentitas dan jati diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia.
6. Abad XXI Gerakan PPK mengembangkan kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk hidup pada abad XXI, antara lain kecakapan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kecakapan berkomunikasi (communication skill), termasuk penguasaan bahasa internasional, dan kerja sama dalam pembelajaran (collaborative learning).
7. Adil dan Inklusif Gerakan PPK dikembangkan dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keadilan, non-diskriminasi, non-sektarian, menghargai kebinekaan dan perbedaan (inklusif), dan menjunjung harkat dan martabat manusia.
8. Selaras dengan PerkembanganPeserta Didik Gerakan PPK dikembangkan dan dilaksanakan selaras dengan perkembangan peserta didik baik perkembangan biologis, psikologis, maupun sosial, agar tingkat kecocokan dan keberterimaannya tinggi dan maksimal. Dalam hubungan ini kebutuhan-kebutuhan perkembangan peserta didik perlu memperoleh perhatian intensif
9. Terukur Gerakan PPK dikembangkan dan dilaksanakan berlandaskan prinsip keterukuran agar dapat dimati dan diketahui proses dan hasilnya secara objektif.
I. FOKUS GERAKAN PKK
Gerakan PPK berfokus pada struktur yang sudah ada dalam sistem
pendidikan nasional. Terdapat tiga struktur yang dapat digunakan sebagai wahana, jalur, dan medium untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa, yaitu:
1. Struktur Program, antara lain jenjang dan kelas, ekosistem sekolah, penguatan kapasitas guru;
2. Struktur Kurikulum, antara lain kegiatan pembentukan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran(intrakurikuler), kokurikuler, dan ekstrakurikuler;
3. Struktur Kegiatan, antara lain berbagai program dan kegiatan yang mampu mensinergikan empat dimensi pengolahan karakter dari Ki Hadjar Dewantara (olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah hati).
J. BASIS GERAKAN PKK
Gerakan PPK dapat dilaksanakan dengan berbasis struktur kurikulum yang sudah ada dan mantap dimiliki oleh sekolah, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat/ komunitas (Albertus, 2015).
1. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
a. Mengintegrasikan proses pembelajaran di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran, baik itu secara tematik maupun terintegrasi dalam mata pelajaran.
b. Memperkuat manajemen kelas, pilihan metodologi, dan evaluasi pengajaran.
c. Mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kebutuhan daerah.
2. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
a. Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah.
b. Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan.
c. Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.
d. Mengembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi siswa melalui kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler.
e. Memberdayakan manajemen dan tata kelola sekolah.
f. Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah.
3. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat
a. Memperkuatperanan Komite Sekolah dan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan.
b. Melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber pembelajaran seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri.
c. Mensinergikan implementasi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademisi, pegiat pendidikan, dan LSM. d). Mensinkronkan program dan kegiatan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga pemerintahan, dan masyarakat pada umumnya. Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
K. TUJUAN PKK GERAKAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
Memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan.
2. Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.
3. Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).
4. Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.
5. Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumbersumber belajar di dalam dan di luar sekolah.
6. Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
SOAL DAN JAWABAN TENTANG LINGKUNGAN PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
1. Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap pendidikan?
Jawaban:
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Lingkungan dapat memberi pengaruh posistif dan pengaruh negative terhadap pertumbuhan dan perkembangan jiwa peserta didik, sikapnya, akhlaknya, dan perasaan agamanya. Positif apabila memberikan dorongan terhadap keberhasilan proses pendidikan dikatakan negatif apabila lingkungan menghambat keberhasilan. Pengaruh tersebut terutama datang dari teman sebaya dan masyarakat lingkungannya.
2. Apa yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan?
Jawaban:
Lingkungan pendidikan secara umum diartikan sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memepengaruhi kelangsunagn kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya. Lingkungan dibedakan menjadi lingkungan alam hayati, lingkungan alam non hayati, lingkungan buatan dan lingkungan sosial.
3. Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga
sisi, tuliskan!
Jawaban:
1) Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan.
2) Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat.
3) Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang (by design), maupun yang dimanfaatkan (utility).
4. Tuliskan 5 pranata sosial yang terdapat di dalam lingkungan sosial!
Jawaban:
a. pranata pendidikan, bertugas dalam upaya sosialisasi
b. pranata ekonomi, bertugas mengatur upaya pemenuhan kemakmuran
c. pranata politik, bertugas menciptakan integritas dan stabilitas masyarakat
d. Pranata teknologi, bertugas menciptakan teknik untuk mempermudah manusia e. Pranata moral dan etika, bertugas mengurusi nilai dan penyikapan dalam pergaulan masyarakat.
5. Tuliskan pengertian pendidikan karakter!
Jawaban:
Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.
6. Tuliskan tujuan dari pendidikan karakter!
Jawaban:
Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
7. Jelaskan mengenai urgensi pendidikan karakter!
Jawaban:
Pendididkan karakter sangatlah penting karena karakter akan menunjukkan siapa kita sebenarnya, karakter akan menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan, karakter menentukan sikap, perkataan dan perbuatan seseorang. Berdasar dari beberapa sumber mengenai pentingnya pendidikan karakter di atas, sejatinya memberikan motivasi serta pencerahan bagi pemerintah, para pendidik, insan akademik serta stakeholder pendidikan pada umumnya untuk segera sadar dan bangkit berupaya mencari solusi agarnpendidikan karakter ini dapat diimplementasikan dengan segera di sekolah madrasah dan juga di rumah. Seluruh warga Indonesia harus segera menyelamatkan diri dengan mencetak sumber daya manusia yang berkarakter unggul sesuai dengan nilai-nilai agama, budaya dan falsafah bangsa.
8. Tuliskan 5 Nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas!
Jawaban:
1). Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2). Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan
3). Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4). Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5). Kerja Keras Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
9. Terdapat tiga struktur yang dapat digunakan sebagai wahana, jalur,
dan medium untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa, tuliskan!
Jawaban:
Struktur program, struktur kurikulum, dan struktur kegiatan.
10. Bagaimana penguatan pendidikan karakter berbasis kelas?
Jawaban:
Dengan mengintegrasikan proses pembelajaran di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran, baik itu secara tematik maupun terintegrasi dalam mata pelajaran. Kemudian memperkuat manajemen kelas, pilihan metodologi, dan evaluasi pengajaran. Serta mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kebutuhan daerah.
SOAL PILIHAN GANDA
1. Yang termasuk dalam tripusat pendidikan dibawah ini Kecuali....
a. Keluarga
b. Teman
c. Sekolah
d. Lingkungan
Jawaban: b. Teman
2. Suatu tempat berlangsungannya proses pendidikan,yang merupakan bagian dari lingkungan sosial adalah....
a. Lingkungan
b. Rumah
c. Sekolah
d. Keluarga
Jawaban: a. Lingkungan
3. berbagai program dan kegiatan yang mampu mensinergikan empat dimensi pengolahan karakter dari Ki Hadjar Dewantara (olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah hati) merupakan struktur....
a. Kurikulum
b. Kegiatan
c. Program
d. PKK
Jawaban: b. Kegiatan
4. suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil (umumnya terdiri dari 4-5 orang siswa) dengan keanggotaan yang heterogen (tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras berbeda). Merupakan pengertian dari....
a. Metode pembelajaran berbasis teks
b. Metode pembelajaran saintifik
c. Metode pembelajaran kooperatif
d. Metode pembelajaran berbasis proyek
Jawaban: c. Metode pembelajaran kooperatif
5. Di bawah nilai nilai pendidikan karakter menurut diknas kecuali...
a. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
b. Kerja Keras Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
c. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
d. Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumbersumber belajar di dalam dan di luar sekolah.
Jawaban: d
6. Di bawah ini yang merupakan penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat yaitu.....
a. Memperkuatperanan Komite Sekolah dan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan.
b. Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah.
c. Memperkuat manajemen kelas, pilihan metodologi, dan evaluasi pengajaran.
d. Mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kebutuhan daerah.
Jawaban: a
7. Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk bangsa yang....
a. Tangguh
b. Berakhlak mulia
c. Bermoral
d. Semua jawaban benar
Jawaban: d
8. Di bawah ini yang merupakan penguatan pendidikan krakter
berbasis Budaya Sekolah yaitu.....
a. Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah.
b. Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan.
c. Memperkuatperanan Komite Sekolah dan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan.
d. Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.
Jawaban: c
9. struktur yang dapat digunakan sebagai wahana, jalur, dan
medium untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa, yaitu....
a. Struktur kegiatan
b. Struktur kurikulum
c. Struktur program
d. Semua jawaban benar
Jawaban: d
10. Tujuan dari gerakan penguatan Pendidikan karakter
kecuali...
a. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
b. Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.
c. Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumbersumber belajar di dalam dan di luar sekolah.
d. Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Jawaban: a
Komentar
Posting Komentar